![]() |
| Review Film: Parasite (2019) via Imdb.com |
| Keluarga Kim Ki-Taek yang miskin via imdb.com |
| Kim Ki Woo menjadi guru les bahasa inggris anak keluarga Park |
| Kim Ki Taek bagaikan parasit yang baru saja mendapatkan tempat enak untuk menghisap kekayaan inangnya, yaitu keluarga Park via imdb.com |
Di film ini, sutradara Bong Joon Ho yang sebelumnya telah sukses menyutradarai berbagai film seperti Memories of Murderer, OkJa, Snowpiercer, juga berhasil mengemas Parasite menjadi sebuah film yang mengandung makna kritik social di dalamnya. Film Parasite menceritakan perbedaan antara golongan menengah ke atas seperti keluarga Park dengan orang miskin, yaitu keluarga Kim Ki Taek. Park Dong-ik diceritakan sebagai seorang arsitek yang sukses dan memiliki banyak harta, sedangkan Kim Ki Taek sebaliknya, yaitu seorang pengangguran. Meski begitu, anggota keluarga Kim Ki Taek sebenarnya juga tetap punya keahlian, seperti Ki Woo yang pintar berbahasa Inggris, adiknya, Ki Jung yang berbakat di bidang seni (atau di bidang pemalsuan ya hehe), dan istri Kim Ki Taek yang merupakan mantan atlet. Saya setuju dengan review dari Bogi Yuniar Rachman di Mediumnya, ia mengatakan bahwa parasit yang mengancam masyarakat bukanlah pengangguran, tapi parasit yang sebenarnya tumbuh adalah tidak meratanya kesempatan. Keluarga miskin juga tetap ingin hidup dengan bekerja apapun, begitu pula orang-orang kaya, tapi keluarga miskin ini tidak mendapatkan kesempatan yang sama yang seringkali menjadi privilege orang kaya.
Film Parasite kali ini juga menyinggung masalah batas. Batasan antara orang kaya dan orang miskin. Di film diceritakan bahwa Park Dong-ik curhat masalah ini kepada istrinya. Ia tetap bersikap seperti biasa kalau saja pekerja rumahnya tidak melampaui batas. Sayangnya, bau badan Kim Ki Taek yang menjadi supir keluarga Park justru melampaui batas, karena baunya bahkan tercium sampai jok belakang mobil Mercedes tempat duduk Park Dong-ik dan istrinya.
| Bau badan Kim Ki Taek melampaui batas sampai tercium di jok belakang mobil keluarga Park |
“Sebagian besar orang mengklaim bahwa hierarki sosial mereka adalah alamiah sedangkan di masyarakat lain didasarkan pada kriteria-kriteria palsu yang menggelikan. Orang-orang Barat modern diajari untuk mencela pemikiran tentang hierarki rasial. Mereka terguncang oleh hukum yang melarang kulit hitam hidup dalam perkampungan kulit putih, belajar di sekolah-sekolah kulit putih, atau dirawat di rumah sakit kulit putih. Namun, hierarki kaya dan miskin—mandat yang membuat orang kaya hidup di perkampungan terpisah dan lebih mewah, belajar terpisah di sekolah-sekolah yang lebih prestisius, dan menerima perawatan medis terpisah di fasilitas-fasilitas kesehatan dengan perlengkapan lebih baik—tampak sangat masuk akal bagi banyak orang Amerika dan Eropa. Meskipun demikian, sudah terbukti bahwa kebanyakan orang kaya adalah karena sebab sederhana, bahwa mereka dilahirkan dalam keluarga kaya, sedangkan orang miskin tetap miskin sepanjang hidup karena dilahirkan dalam keluarga miskin.
Tatanan- tatanan yang diimajinasikan pemelihara jaringan-jaringan itu tidaklah netral dan tidak pula adil. Tatanan-tatanan itu membagi orang ke dalam kelompok-kelompok seolah-olah, yang disusun dalam suatu hierarki. Tingkatan-tingkatan atas menikmat hak- hak istimewa, sedangkan tingkatan-tingkatan bawah tertimpa diskriminasi dan penindasan. Undang-Undang Hammurabi, misalnya, menciptakan tata tingkatan golongan kelas atas, orang biasa, dan budak. Kelas atas mendapatkan semua kebaikan dalam hidup. Orang biasa mendapatkan sisanya. Budak mendapat pukulan jika mengeluh.” Yuval Noah Harari – Sapiens
Dengan adanya batas antara orang kaya dan miskin, kesempatan yang diterima tiap individu tentu juga tidak sama. Setiap orang pasti ingin memiliki kehidupan yang lebih baik, tapi jika ada yang berani melampaui batas maka akan dihukum. Ki Woo dan Ki Jung tidak bisa mendapatkan pendidikan yang lebih baik karena keterbatasan ekonomi, yang membuatnya kehilangan kesempatan untuk meningkatkan taraf hidup keluarganya. Film Parasite ini juga sepertinya cukup bagus untuk memberikan kita gambaran tentang apa yang dirasakan orang kaya dan orang miskin.
Itu saja dulu review saya hehe maaf panjang banget ya, mari lanjut belajar dan bekerja mumpung punya dan diberi kesempatan, karena kalau kita malas kita akan semakin miskin dan nggak bisa protes persoalan privilege lagi hehe. (*)


Filmnya memang seru. Kalau disadur ke Indonesia mungkin judul filmnya jadi Pak Rasyid.
Yg bikin parodinya Haris Firmansyah, fix.
Gue pas nonton ini ngakak ngakak. Pas baca tulisan ini baru mikir. Emang lemot ternyata gue. 🙁
Iyes, makanya keren bgt si ni film, jd tragic comedy yg apik bgt. Bisa mengemas pesan kritik sosial tp dg cara yg fun dan mudah dicerna hehehe
Anda tidak sendirian, pak Kresnoadi.