Setelah menjadi pengamat dan pelaku, tapi bukan terdakwa apalagi tersangka, saya melihat minat anak muda untuk menulis semakin tinggi. Apalagi dengan hadirnya media yang dapat digunakan untuk menulis seperti Blogger, WordPress, Facebook, Twitter, bahkan Path atau bisa juga anak muda sering menulis di timeline Line dengan ditambahi sticker yang dapat mewakili perasaan sang penulis.
But then, dengan semakin mudahnya akses untuk menerbitkan (post) tulisannya, serta tidak adanya editor yang berhak untuk mengedit, mensortir atau mengkritik apakah hal tersebut patut dipublikasikan untuk diketahui khalayak umum, maka semakin banyak pula tulisan-tulisan yang berakhir menjadi “sampah” di beranda atau timeline media sosial kita.
Jaman segini, udah ga saatnya kita nulis menye-menye di media sosial. Emangnya nggak malu sama pendahulu kita? Dimana sebelum mempublikasikan sesuatu pada khayalak umum, mereka menulis dengan penuh hati-hati dan berpikir secara mendalam. Bahkan dalam buku biografi dari Moh. Hatta dijelaskan bahwa beliau ketika akan menulis (inget, jaman itu nulis masih ketikan manual, atau tulis tangan) itupun sangat sedikit bahkan tidak ada coretan yang beliau hasilkan. Hal tersebut dapat mencerminkan bahwa beliau sangat berhati-hati dan berpikir secara mendalam terhadap apa yang akan ditulis.
Ayolah bung! Mulailah menulis dan tulislah hal baik agar kita dapat membawa kebaikan. Jika kita melihat sosok pemuda, coba kita lihat pada Soe Hok Gie. Dalam buku yang berjudul Catatan Seorang Demonstran yang berisi catatan harian beliau selama ini. Pada halaman pengantarnya oleh Arief Budiman, kakak dari Soe Hok Gie, mengatakan bahwa Gie frustasi apakah selama ini kritik yang dia sampaikan apakah tidak mengubah keadaan, apa gunanya kritik yang selama ini dia sampaikan.
Image credit: pixabay.com

"berhentilah memikirkan berapa banyak yang menjadi follower kamu tapi mulailah berpikir tentang bagaimana meningkatkan kualitas dirimu" setuju banget nih statement nya
bener banget mas, karena kita pasti follow apa yg kita interest, semangat meningkatkan kualitas!
setuju banget, banyak juga orang yang pengen nulis cuman pengen ikut-ikutan bikin blog tapi isinya juga kurang bermanfaat.
Kalo menulis bisa bikin perubahan, dimanakah posisi mereka yang berbicara? Oh, ternyata mereka sedang beraksi untuk menyuarakan perubahan 🙂
iya kak haha, mungkin sedang dalam tahapan belajar menulis 🙂
ya mungkin bisa saling berkolaborasi mas, ada yang nulis, ada yang beraksi 🙂
suka banget dg judulnya! haha, ayooo nulisss
Iya kak, tulis yang bermanfaat 😀
Jadi, makan siang (barengnya) kapan, Justin? 😀
ingat pepatah kak, tidak ada makan siang yang gratis 😛
Pak Hatta pada masa itu tulisannya gak ada coretan kalau belum ada fitur strikethough, 🙂
aku ngekek moco komenmu
Yang satu beraksi, lainnya bereaksi.
Wah. Njung junjunganqoe…
"Followback" ini emang lagi marak2nya sih njus 🙁
Aduh maaap komentarku nggk berbobot. Tp ku baca aemua tulisan njung dr awal kalimat sampe akhir. Dan sepandapat dengn njus.
ini maksudnya Njung apa Njus? huhu kubingungwkwkwk
Setuju mas
Lanjutkan kiprahmu
pernah ada yang mention mention…mas follbeck ya follbeck ya..PENTING? hahah yo ora tak follbeck..malah sing ra penting tak unfollow :))
Sukak, sama anak muda model ini. Mampu berpikir sesuatu yang bermanfaat. Berani menyuarakan pendapat tapi nggak asal njeplak.
folbek ya kak 🙂
Hm, how worth are you to be followed back? Huehehehe /kamekamehaa/
Menulis sembarangan dan memosting di media yg bsia dibaca banyak org memang hak siapapun, terserah. Tapi habis itu, masyarakatlah yg punya kekuatan penuh utk menilai dia berkualitas apa tidak.
Semoga….semoga…..kita semua termasuk org2 yg tulisannya bisa diambil manfaat utk org lain. Terimakasih kak 🙂