<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Opinion - Justina Landhiani</title>
	<atom:link href="https://landhiani.com/category/opinion/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://landhiani.com</link>
	<description>Freelance Content Writer</description>
	<lastBuildDate>Sat, 10 Jun 2017 03:35:00 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.4.2</generator>

<image>
	<url>https://landhiani.com/wp-content/uploads/2021/05/cropped-cropped-logo-32x32.png</url>
	<title>Opinion - Justina Landhiani</title>
	<link>https://landhiani.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Tutorial Menjadi Manusia Kuat Seperti Mutan X-Men</title>
		<link>https://landhiani.com/2017/06/tutorial-menjadi-manusia-kuat-seperti-mutan-x-men/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=tutorial-menjadi-manusia-kuat-seperti-mutan-x-men</link>
					<comments>https://landhiani.com/2017/06/tutorial-menjadi-manusia-kuat-seperti-mutan-x-men/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Justina]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 10 Jun 2017 03:35:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Motivation]]></category>
		<category><![CDATA[Movie]]></category>
		<category><![CDATA[Opinion]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://landhiani.com/?p=50</guid>

					<description><![CDATA[<p>X-Men Bisa enggak sih, kita kuat kayak mutan-mutan di X-Men ? Mutan sebenarnya merupakan suatu istilah dalam biologi yaitu berupa organisme yang memiliki gen lebih [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://landhiani.com/2017/06/tutorial-menjadi-manusia-kuat-seperti-mutan-x-men/">Tutorial Menjadi Manusia Kuat Seperti Mutan X-Men</a> first appeared on <a href="https://landhiani.com">Justina Landhiani</a>.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://landhiani.com/2017/06/tutorial-menjadi-manusia-kuat-seperti-mutan-x-men/">Tutorial Menjadi Manusia Kuat Seperti Mutan X-Men</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://landhiani.com">Justina Landhiani</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;">
<tbody>
<tr>
<td style="text-align: center;"><a href="https://1.bp.blogspot.com/-Rl8ZQ3RxxbA/WMCkl1zpD8I/AAAAAAAACWI/wf5i_BMTwKU6Z34QKngwv4MAgGvGVjn8wCLcB/s1600/dofp2.jpg" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"><img fetchpriority="high" decoding="async" border="0" height="360" src="https://1.bp.blogspot.com/-Rl8ZQ3RxxbA/WMCkl1zpD8I/AAAAAAAACWI/wf5i_BMTwKU6Z34QKngwv4MAgGvGVjn8wCLcB/s640/dofp2.jpg" width="640" /></a></td>
</tr>
<tr>
<td style="text-align: center;"><a href="https://www.google.co.id/url?sa=i&amp;rct=j&amp;q=&amp;esrc=s&amp;source=imgres&amp;cd=&amp;cad=rja&amp;uact=8&amp;ved=0ahUKEwj1y6LWl8jSAhUDoZQKHUxnBRQQjhwIBQ&amp;url=http%3A%2F%2Fwww.allaboutjackman.com%2Fwolverine.html&amp;psig=AFQjCNGClvKcF7Jr25Ep42yxqfAwBx1_9A&amp;ust=1489106374362859" rel="nofollow noopener" target="_blank">X-Men</a></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p></p>
<blockquote><p>Bisa enggak sih, kita kuat kayak mutan-mutan di X-Men ?</p></blockquote>
<p>Mutan sebenarnya merupakan suatu istilah dalam biologi yaitu berupa organisme yang memiliki gen lebih dari atau kurang dari organisme pada umumnya. Namun seringkali ketika mendengar istilah mutan, kita langsung berpikiran tentang suatu makhluk yang memiliki kemampuan super, seperti dalam <a href="http://www.landhiani.com/2016/06/x-men-kebingungan-membawa-kenikmatan.html" target="_blank" rel="noopener">film X-Men</a>. Ya mau gimana lagi? Generasi milenial seperti kita sejak SD, sangat akrab dengan film X-Men. Yaudah, oleh karena itu kita diskusinya fokus ke mutan di film X-Men aja ya.</p>
<blockquote><p>Lalu, mengapa mutan di film X-Men tersebut jadi terlihat kuat banget?</p></blockquote>
<p>Jadi, kalau dari kacamata penggemar X-Men yang angin-anginan ini, mutan di film x-men itu selalu melakukan adaptasi terhadap pressure yang diberikan kepada tubuhnya. Semakin tinggi tekanan yang diberikan, maka semakin tinggi pula usaha yang dilakukannya untuk mengatasi tekanan tersebut. Jadi kemampuan adaptasinya lebih tinggi daripada manusia biasa. Perkecualian untuk mutan yang memiliki sayap, saya masih belum ada spekulasi tentangnya, lha trus ngapain aku mikirin? Hahahaha.</p>
<div>Hal tersebut sebenarnya kita alami sebagai manusia. Kita memiliki respon adaptasi terhadap tekanan kepada tubuh kita. Contoh nih, ketika kita sering tidak menggunakan alas kaki, lama kelamaan kulit kaki kita akan mengeras, atau istilah biologinya adalah kornifikasi, yang artinya penebalan zat tanduk. Kalau contoh dari mutan di x-men, yaitu mutan yang bisa mengubah tubuhnya jadi besi ketika diberi tekanan benda-benda berat ke tubuhnya.&nbsp;</div>
<div>
<blockquote><p>Kalau gitu enggak ada mutan yang unbreakable dong?</p></blockquote>
<p>Wo, lha iya enggak ada dong. Coba aja liat di film <a href="http://www.landhiani.com/2017/03/logan-wolverine-dari-masa-ke-masa.html" target="_blank" rel="noopener">X-Men Days of Future</a>. Di film tersebut, mutan mendapatkan musuh yang sangat kuat, yaitu Sentinel. Sentinel mampu mendeteksi setiap kelemahan mutan. Keadaan mutan sangat terpojok, karena melawan Sentinel merupakan usaha yang sia-sia. Jadi daripada susah-susah ngelawan Sentinel, Profesor X lebih memilih untuk mengirim Logan ke masa lalu, agar Program <strike>Kreativitas Mahasiswa</strike>&nbsp;pengadaan Sentinel yang diajukan Dr. Trask dibatalkan.</p>
<blockquote><p>Jadi, bagaimana agar kita bisa kuat seperti mutan di film X-Men ? Biar kebal kalau disilet-silet.</p></blockquote>
<p>Ke dukun aja kalo gitu! Ya enggak ada toh. Kalau kamu mau kuat ketika mendapatkan tekanan berkali-kali ya kamu harus mengalami tekanan berkali-kali sampai kamu enggak ngerasa sakit lagi. Karena setiap kita mengalami suatu trauma, tubuh kita seperti melakukan mekanisme usaha agar hal tersebut tidak lagi melukai kita. Seperti kalau pertama kali kita gagal dalam langkah awal meraih cita-cita, awalnya sih sakit, tapi lama-lama kita akan terbiasa dan enggak lagi menyerah jika suatu saat masalah itu terulang kembali. Atau ketika pertama kali ditolak ketika interview kerja, rasanya dunia seperti kiamat, tapi kalau kita tidak menyerah, lama-lama kita akan kuat menghadapi masalah seperti itu. Seperti kata pepatah, &#8220;What doesn&#8217;t kill you, makes you stronger.&#8221; Kalau kata Indra Herlambang,&#8221; If life gives you a suck, kenyot balik!!!&#8221; Gitu aja, gampang kan. </p>
<p>Baca juga: <a href="http://www.landhiani.com/2016/04/masa-bodoh-dengan-semua-kegalauan.html" target="_blank" rel="noopener">Masa Bodoh dengan Semua Kegalauan, Sekarang Saatnya Berjuang Meraih Mimpi</a></p>
<p>Nah, untuk kamu, masih ingin menyerah atau tetap berusaha sekuat tenaga agar bisa menjadi <i>unbreakable</i> seperti mutan X-Men? Selamat berjuang! <img src="https://s.w.org/images/core/emoji/14.0.0/72x72/1f600.png" alt="😀" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></p>
<p>(Disclaimer: Tulisan ini adalah murni asumsi dan opini pribadi)</p></div><p>The post <a href="https://landhiani.com/2017/06/tutorial-menjadi-manusia-kuat-seperti-mutan-x-men/">Tutorial Menjadi Manusia Kuat Seperti Mutan X-Men</a> first appeared on <a href="https://landhiani.com">Justina Landhiani</a>.</p><p>The post <a rel="nofollow" href="https://landhiani.com/2017/06/tutorial-menjadi-manusia-kuat-seperti-mutan-x-men/">Tutorial Menjadi Manusia Kuat Seperti Mutan X-Men</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://landhiani.com">Justina Landhiani</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://landhiani.com/2017/06/tutorial-menjadi-manusia-kuat-seperti-mutan-x-men/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>30</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menjadi Ekstrovert yang Menyenangkan di Media Sosial</title>
		<link>https://landhiani.com/2017/03/menjadi-ekstrovert-yang-menyenangkan-di-media-sosial/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=menjadi-ekstrovert-yang-menyenangkan-di-media-sosial</link>
					<comments>https://landhiani.com/2017/03/menjadi-ekstrovert-yang-menyenangkan-di-media-sosial/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Justina]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 07 Mar 2017 01:29:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opinion]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://landhiani.com/?p=57</guid>

					<description><![CDATA[<p>Instagram via Pixabay.com Jika dahulu saya harus berterimakasih kepada Facebook dan Twitter, mungkin sekarang saya harus berterimakasih kepada Instagram. Yeah, Instagram membuat saya mengerti teman [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://landhiani.com/2017/03/menjadi-ekstrovert-yang-menyenangkan-di-media-sosial/">Menjadi Ekstrovert yang Menyenangkan di Media Sosial</a> first appeared on <a href="https://landhiani.com">Justina Landhiani</a>.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://landhiani.com/2017/03/menjadi-ekstrovert-yang-menyenangkan-di-media-sosial/">Menjadi Ekstrovert yang Menyenangkan di Media Sosial</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://landhiani.com">Justina Landhiani</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;">
<tbody>
<tr>
<td style="text-align: center;"><a href="https://2.bp.blogspot.com/-gpeOvDDOUs0/WL30JIidt4I/AAAAAAAACV4/_h5dkZU3mCsE580Y2R1PlpR6Opyt3rUjwCLcB/s1600/instagram-1451137_1920.jpg" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"><img decoding="async" border="0" height="426" src="https://2.bp.blogspot.com/-gpeOvDDOUs0/WL30JIidt4I/AAAAAAAACV4/_h5dkZU3mCsE580Y2R1PlpR6Opyt3rUjwCLcB/s640/instagram-1451137_1920.jpg" width="640" /></a></td>
</tr>
<tr>
<td style="text-align: center;">Instagram via Pixabay.com</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Jika dahulu saya harus berterimakasih kepada Facebook dan Twitter, mungkin sekarang saya harus berterimakasih kepada Instagram. Yeah, Instagram membuat saya mengerti teman saya si A sedang <a href="http://www.landhiani.com/2017/03/logan-wolverine-dari-masa-ke-masa.html" target="_blank" rel="noopener">menonton film Logan</a>, teman saya si B sedang <a href="http://www.landhiani.com/2015/08/tunjukkan-karyamu-tapi-jangan-tunjukkan.html" target="_blank" rel="noopener">makan siang bersama sahabat-sahabatnya</a>, dan teman saya si C dan D sedang asik berdiskusi tentang proses regenerasi sel dalam ilmu biologi yang dihubungkan ke film Logan. Cukup satu klik, saya dapat mengetahui semuanya, dan tentu saja saya harus mau berkorban kuota data yang makin menipis demi melihat aktivitas teman-teman saya. </p>
<p>Saya memulai membuat akun Instagram ketika<i> feeds</i> Instagram masih dihiasi pemandangan alam, oleh karena itu tergerak hati saya untuk mengunggah beberapa jepretan amatir tentang pemandangan alam. Namun beberapa tahun kemudian setelah penggunaan Facebook dan Twitter mulai tergeser oleh Instagram, <i>feeds</i>&nbsp;Instagram menjadi semakin menarik. Ada yang ingin menampilkan kegiatannya sehari-hari, ada yang mengunggah kembali unggahan akun Instagram lain, ada yang menampilkan foto muka sebanyak empat kali dan sebagainya. Saya kesal? Justru tidak. Karena Instagram memiliki fitur <i>follow</i> dan <i>unfollow</i> yang mudah untuk digunakan ketika kita tidak menyukai suatu unggahan foto yang ada di <i>feeds</i> kita. Kalau enggak suka, ya tinggal <i>unfollow</i>, kalau suka ya di-<i>love</i>, kalau mau tetap update ya tinggal klik <i>follow</i>. Mudah!</p>
<p>Setelah Instagram meluncurkan fitur <i>story</i>-nya, saya jadi merasa kembali ke era ajang unjuk gigi seperti masa kejayaan mengunggah status di Facebook. Lewat Instastory saya dapat mengetahui kegiatan teman-teman saya di 24 jam terakhir. Ada yang hanya mengunggah tulisan,&#8221;Ngantuk :(&#8220;, dan ada juga yang mengunggah rekaman video ketika akan menonton film bersama, makan siang bersama, dan sebagainya.</p>
<div></div>
<div>Yang menjadi ganjalan di hati saya adalah, ketika penggunaan Instagram berujung menyakiti orang lain. Seperti ketika kita mengunggah suatu foto tentang teman kita, namun dengan tanpa permisi atau tanpa persetujuan teman kita, apakah kita tetap tega untuk mengunggahnya? Contoh lain lagi, ketika <a href="http://www.landhiani.com/2016/11/etika-menonton-film-di-bioskop-yang.html" target="_blank" rel="noopener">kita menonton film di bioskop</a>, apakah layak jika kita merekam adegan film tersebut kemudian diunggah di Instastory atau Live di Instagram?</p>
<p>Selain konten yang berujung menyakiti orang lain, kita sebaiknya juga sadar bahwa sesuatu yang sudah kita bagikan ke media sosial, entah sudah menerapkan <i>private mode</i> atau tidak, konten tersebut akan selamanya ada. Entah media sosial yang kita gunakan menerapkan konten yang dapat hilang dalam waktu 24 jam seperti di Instastory atau tidak, konten yang kita unggah akan selamanya ada. Selain itu, akan selalu ada orang yang terobsesi dengan kita. Semua informasi tentang kita adalah harta karun yang berharga bagi orang tersebut.</p>
<blockquote><p><a href="https://medium.com/@firmansyahadam/i-am-obsessed-with-you-tulisan-tentang-sensitifitas-informasi-dunia-maya-bbd7858b910c#.7zrq0m463" rel="nofollow noopener" target="_blank">Tanpa kamu sadari, selalu ada orang yang mengawasi kamu..</a></p></blockquote>
<p>Persoalan privasi dari penggunaan Instagram sepertinya masih kabur atau kurang kita pahami. Jadi kitalah sebagai penggunanya yang seharusnya lebih bijak dalam menggunakannya. Because <a href="https://medium.com/@firmansyahadam/i-am-obsessed-with-you-tulisan-tentang-sensitifitas-informasi-dunia-maya-bbd7858b910c#.7zrq0m463" rel="nofollow noopener" target="_blank">your world is in your hand.</a></div><p>The post <a href="https://landhiani.com/2017/03/menjadi-ekstrovert-yang-menyenangkan-di-media-sosial/">Menjadi Ekstrovert yang Menyenangkan di Media Sosial</a> first appeared on <a href="https://landhiani.com">Justina Landhiani</a>.</p><p>The post <a rel="nofollow" href="https://landhiani.com/2017/03/menjadi-ekstrovert-yang-menyenangkan-di-media-sosial/">Menjadi Ekstrovert yang Menyenangkan di Media Sosial</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://landhiani.com">Justina Landhiani</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://landhiani.com/2017/03/menjadi-ekstrovert-yang-menyenangkan-di-media-sosial/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>18</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Etika Menonton Film di Bioskop yang Baik dan Benar, Benarkah?</title>
		<link>https://landhiani.com/2016/11/etika-menonton-film-di-bioskop-yang-baik-dan-benar-benarkah/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=etika-menonton-film-di-bioskop-yang-baik-dan-benar-benarkah</link>
					<comments>https://landhiani.com/2016/11/etika-menonton-film-di-bioskop-yang-baik-dan-benar-benarkah/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Justina]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 16 Nov 2016 01:10:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Movie]]></category>
		<category><![CDATA[Opinion]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://landhiani.com/?p=62</guid>

					<description><![CDATA[<p>Theater via pexels.com Menonton film di bioskop menurut saya adalah suatu kemewahan. Duduk di kursi yang empuk, pengeras suara yang lebih dari speaker milik saya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://landhiani.com/2016/11/etika-menonton-film-di-bioskop-yang-baik-dan-benar-benarkah/">Etika Menonton Film di Bioskop yang Baik dan Benar, Benarkah?</a> first appeared on <a href="https://landhiani.com">Justina Landhiani</a>.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://landhiani.com/2016/11/etika-menonton-film-di-bioskop-yang-baik-dan-benar-benarkah/">Etika Menonton Film di Bioskop yang Baik dan Benar, Benarkah?</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://landhiani.com">Justina Landhiani</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p></p>
<table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;">
<tbody>
<tr>
<td style="text-align: center;"><a href="https://2.bp.blogspot.com/-vMVdAiNoLNo/WCr9XRMZfTI/AAAAAAAACNI/WO-YTqJMDJgOBytHhCLWo5LV_ATQoKFggCLcB/s1600/pexels-photo-109669.jpeg" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"><img decoding="async" border="0" src="https://2.bp.blogspot.com/-vMVdAiNoLNo/WCr9XRMZfTI/AAAAAAAACNI/WO-YTqJMDJgOBytHhCLWo5LV_ATQoKFggCLcB/s640/pexels-photo-109669.jpeg" /></a></td>
</tr>
<tr>
<td style="text-align: center;">
<div style="text-align: center;"><span style="font-size: x-small;">Theater via pexels.com</span></div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Menonton film di bioskop menurut saya adalah suatu kemewahan. Duduk di kursi yang empuk, pengeras suara yang lebih dari <i>speaker</i> milik saya di rumah, serta pendingin ruangan yang dapat membuat beberapa orang kedinginan hingga saling berpelukan. Eh? </p>
<p>Saya jadi teringat pengalaman pertama kali saya nonton bioskop, yaitu ketika film kedua dari tetralogi Laskar Pelangi, Sang Pemimpi. Canggung dan deg-degan, seperti pertama kali naik pesawat. Kecanggungan saya bertambah ketika mengetahui di dalam bioskop terdapat aturan yang benar-benar tertulis, yaitu: <br />1. Dilarang merekam atau mengambil gambar<br />2. Dilarang berisik <br />3. Dilarang menerima telfon<br />4. Dilarang menaikkan kaki ke sandaran kursi di depan</p>
<div>5. Dilarang membawa makanan dan minuman dari luar</p>
<p>Ya, saya yang pertama kali nonton bioskop sampai sekarang masih deg-degan ketika lampu mulai dipadamkan. Apakah saya sudah menonaktifkan handphone saya? Apakah saya sudah mengubah mode handphone saya menjadi <i>silent</i>? Apakah saya sudah mematikan <i>mobile data</i> saya? Sama <i>overthinking</i>nya ketika saya naik pesawat. Sampai suatu ketika saya melihat <i>tweet</i> dari seorang <i>selebtwit</i> yang menjabarkan aturan-aturan yang harus dipatuhi ketika menonton bioskop, diantaranya adalah untuk tidak menyalakan handphone atau melakukan aktivitas apapun dengan handphone karena seringkali tingkat kecerahan dari layar handphone akan mengganggu kenyamanan penonton lain ketika menonton film.</p>
<div></div>
<div>Sejak saat itu, saya mengikuti aturan tersebut dengan patuh, tidak berisik, tidak berdiskusi selama film ditayangkan, tidak memainkan handphone, dan tidak membawa makanan dan minuman dari luar. Oh iya, saya juga patuh untuk tidak menyebarkan <i>spoiler</i> sebelum film tersebut tidak lagi tayang di bioskop. Sejak saat itu pula saya mulai merasa terganggu dengan bapak-bapak yang main handphone ketika film ditayangkan, saya juga mulai merasa terganggu dengan penonton yang membawa pizza dan membuat aromanya menguar di dalam bioskop. Sejak saat itu saya ke bioskop mulai merasakan makan hati, dan berhenti makan popcorn.</p>
<p>Hingga suatu ketika saya mengobrol ringan dengan <a href="https://twitter.com/bogiyuniar" rel="nofollow noopener" target="_blank">Mas Bogi</a> tentang bioskop. Saya kaget dengan bioskop yang sering dia kunjungi, di daerah Jember. Beliau ini nonton <a href="https://katanium.com/post/174/marvel-is-marvelous-i-think" rel="nofollow noopener" target="_blank">Captain America: Civil War </a>sambil <i>ngemil</i> cilok. Hal serupa juga saya baca di sebuah <a href="http://www.mojok.co/2016/05/nonton-aadc-2-di-jember/" rel="nofollow noopener" target="_blank">artikel</a>&nbsp;tentang menonton film di bioskop Jember. Penonton sangat ekspresif. Tidak seperti yang saya alami ketika menonton, saya harus mengontrol kapan harus tertawa, dan kapan harus menjerit ketakutan ketika menonton film horor.</p>
<p>Sejak saat itu pula saya sadar, saya terlalu kaku dalam bersikap. Memiliki selembar tiket seharga dua puluh lima ribu hingga tiga puluh ribu, membuat saya arogan dan merasa eksklusif. Tidak boleh ada yang melanggar kenyamanan saya yang saya tebus dengan harga tiket tersebut. <a href="http://qureta.com/post/film-sebuah-perayaan-kehidupan" rel="nofollow noopener" target="_blank">Karena menonton film adalah salah satu cara untuk merayakan kehidupan.</a> Sejak saat itu pula saya sangat menikmati menonton film di bioskop, sambil bergumam dalam hati, &#8220;Kapan ya, saya bisa <i>ngemil</i> sepuluh tusuk sate keong sambil nonton?&#8221;.</p>
<p><b>Note:</b></p>
<p>Selama ini saya nggak melanggar peraturan yang tertulis. Saya tetap mengubah mode handphone saya menjadi silent, bahkan paket data saya matikan. Saya juga nggak buang sampah sembarangan, nggak nendang-nendang kursi, dan sebagainya.</p>
<p>Terus kenapa saya menulis ini? Karena saya capek kalau harus emosi melihat pelanggaran peraturan yang udah ada. Energi yang harusnya dipakai buat nonton film, tersedot untuk marah-marah. Harusnya keluar dari bioskop itu happy, eh malah bete. Kan sayang uangnya :'(</p>
<p>Oiya, sampai sekarang saya belum pernah loh bawa sate keong buat nemenin nonton di bioskop.</p>
<p>Jadi kesimpulannya adalah, sebelum menuntut hak, ada baiknya jika kita melakukan kewajiban terlebih dahulu, seperti kewajiban untuk mematuhi peraturan.</p>
<p>Cheers! Selamat nonton!</p></div>
</div><p>The post <a href="https://landhiani.com/2016/11/etika-menonton-film-di-bioskop-yang-baik-dan-benar-benarkah/">Etika Menonton Film di Bioskop yang Baik dan Benar, Benarkah?</a> first appeared on <a href="https://landhiani.com">Justina Landhiani</a>.</p><p>The post <a rel="nofollow" href="https://landhiani.com/2016/11/etika-menonton-film-di-bioskop-yang-baik-dan-benar-benarkah/">Etika Menonton Film di Bioskop yang Baik dan Benar, Benarkah?</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://landhiani.com">Justina Landhiani</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://landhiani.com/2016/11/etika-menonton-film-di-bioskop-yang-baik-dan-benar-benarkah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>23</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sejarah yang Tak Lengkap</title>
		<link>https://landhiani.com/2016/10/sejarah-yang-tak-lengkap/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=sejarah-yang-tak-lengkap</link>
					<comments>https://landhiani.com/2016/10/sejarah-yang-tak-lengkap/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Justina]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 06 Oct 2016 00:12:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Book]]></category>
		<category><![CDATA[Opinion]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://landhiani.com/?p=64</guid>

					<description><![CDATA[<p>Saya sering menikmati membeli buku tanpa membaca resensinya terlebih dahulu. Seringkali dengan hanya melihat cover buku dan foto buku yang artsy&#160;di Instagram membuat saya tergoda [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://landhiani.com/2016/10/sejarah-yang-tak-lengkap/">Sejarah yang Tak Lengkap</a> first appeared on <a href="https://landhiani.com">Justina Landhiani</a>.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://landhiani.com/2016/10/sejarah-yang-tak-lengkap/">Sejarah yang Tak Lengkap</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://landhiani.com">Justina Landhiani</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div style="clear: both; text-align: center;"><a href="https://2.bp.blogspot.com/-eSJH-K1d4c0/V-PhDc-J_-I/AAAAAAAACHM/E4OOp8FZshM5-dThFuvA7ldDH07OB0XoACLcB/s1600/old-books-436498.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"><img decoding="async" border="0" height="425" src="https://2.bp.blogspot.com/-eSJH-K1d4c0/V-PhDc-J_-I/AAAAAAAACHM/E4OOp8FZshM5-dThFuvA7ldDH07OB0XoACLcB/s640/old-books-436498.jpg" width="640" /></a></div>
<p><span></span><span></span><br />Saya sering menikmati membeli buku tanpa membaca resensinya terlebih dahulu. Seringkali dengan hanya melihat <i>cover</i> buku dan foto buku yang <i>artsy</i>&nbsp;di Instagram membuat saya tergoda untuk memilikinya. Persis seperti orang lain yang tergoda membeli peralatan<i>&nbsp;make up</i>, tas, baju, sepatu dan <i>gadget</i>, hanya saja saya lebih tergoda dengan buku. </p>
<table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;">
<tbody>
<tr>
<td style="text-align: center;"><a href="https://1.bp.blogspot.com/-1uff3azBF4Q/V_WWcATEdfI/AAAAAAAACIw/Ka5oFueJypALjYQ6Qmg97g2QmInKcS98ACLcB/s1600/photo547357599095433359.jpg" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"><img loading="lazy" decoding="async" border="0" height="320" src="https://1.bp.blogspot.com/-1uff3azBF4Q/V_WWcATEdfI/AAAAAAAACIw/Ka5oFueJypALjYQ6Qmg97g2QmInKcS98ACLcB/s320/photo547357599095433359.jpg" width="320" /></a></td>
</tr>
<tr>
<td style="text-align: center;">Perbudakan Seksual via <a href="https://web.facebook.com/susano.books/?pnref=story" rel="nofollow noopener" target="_blank">Susano Books</a></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Perbudakan Seksual, Perbandingan Antara Masa Fasisme Jepang dan Neofasisme Orde Baru yang disusun oleh Anna Mariana terbitan Marjin Kiri, salah satu buku yang sejak dulu saya incar namun belum tahu kapan bisa memilikinya. Beruntung, <a href="https://web.facebook.com/susano.books/?pnref=story" rel="nofollow noopener" target="_blank">seorang kawan memberikan buku ini </a>sebagai kado wisuda saya. Awalnya, saya pikir buku ini tentang perbudakan seksual namun dengan arti tersirat, namun ternyata buku ini menyajikan sejarah dan narasi secara tersurat. Tentang wanita yang dijadikan budak seks ketika masa peperangan.</p>
<p>Saya teringat ketika pelajaran sejarah semasa sekolah. Sejak SD sampai SMA, diceritakan bahwa penjajahan Jepang lebih kejam dibandingkan dengan penjajahan Belanda. <i>Romusha</i>, istilah kerja paksa yang diperintahkan pemerintahan Jepang bagi warga negara Indonesia. Belakangan, menurut buku ini, saya sadar. Ada yang absen untuk diceritakan, mungkin karena persoalan yang dianggap “tabu” jika harus berkata sejujurnya kepada anak sekolahan. Kerja paksa seksual, atau menjadi budak seks yang dikenal dengan <i>jugun ianfu</i> (perempuan penghibur).</p>
<p>Seluk beluk perihal <i>jugun ianfu</i> hampir-hampir tidak pernah mewacana dalam narasi utama historiografi kita. Penulisan sejarah tentang masa penjajahan Jepang didominasi oleh kisah mengenai kekerasan terhadap golongan Islam, “pemasungan” media massa, hingga pengerahan tenaga kerja <i>romusha</i>, tetapi dampak luka perang yang secara khusus dialami oleh para perempuan nyaris tak tercatat. Telah ada testimoni mantan <i>jugun ianfu</i> yang berani mengungkapkan kisahnya, tetapi upaya penempatan kisah ini dalam sejarah belum banyak berpihak pada korban. Kekerasan yang dialami para perempuan muda pada masa penjajahan Jepang yang kini telah menjadi nenek-nenek itu belum dihargai atau pun ditulis dengan baik.</p>
<p>Perempuan memang rentan menjadi korban dalam peristiwa kekerasan yang mengiringi transisi politik. Dalam buku ini diperlihatkan kekerasan terhadap perempuan Tionghoa pada kerusuhan Mei 1998 yang tidak jauh berbeda dengan kasus pembantaian anggota PKI dan perkosaan yang dialami oleh para tapol (tahanan politik) perempuan dalam peristiwa tahun 1965. </p>
<p>Saya jadi teringat ucapan dr. Sienna Brooks, salah satu tokoh dalam <a href="http://www.landhiani.com/2016/10/krisis-over-populasi-dalam-inferno.html" target="_blank" rel="noopener">novel karangan Dan Brown, Inferno</a>. </p>
<blockquote><p>“Pikiran manusia memiliki mekanisme pertahanan ego primitif yang menafikan semua realitas yang menimbulkan terlalu banyak ketegangan untuk ditangani otak. Mekanisme itu bernama penyangkalan. Penyangkalan adalah bagian penting dari mekanisme penyesuaian diri manusia. Tanpanya, kita akan terjaga setiap pagi dengan perasaan tegang tentang berbagai kemungkinan cara kita akan mati. Alih-alih, pikiran kita memblokir ketakutan eksistensial kita dengan berfokus pada stres yang dapat kita tangani. Seperti tiba di kantor tepat waktu atau membayar pajak. Jika kita memiliki ketakutan yang lebih luas dan eksistensial, kita membuangnya dengan segera, berfokus kembali pada tugas-tugas sederhana dan hal remeh-temeh sehari-hari.”&nbsp;</p></blockquote>
<p>Namun sayang, wacana agar kasus <i>jugun ianfu, </i>korban kerusuhan, dan tapol 1965&nbsp;untuk dimasukkan dalam buku sejarah masih harus melewati jalan terjal yang perlu perjuangan panjang. Mungkin, bangsa ini masih berusaha menyembuhkan luka lama yang pernah terjadi, dengan menyangkalnya atau belum menceritakannya. Paling tidak, dengan adanya buku ini menjelaskan bahwa nasib&nbsp;<i>jugun ianfu, </i>tapol dan korban kerusuhan kepada perempuan adalah<i>&nbsp;</i>nyata.</p><p>The post <a href="https://landhiani.com/2016/10/sejarah-yang-tak-lengkap/">Sejarah yang Tak Lengkap</a> first appeared on <a href="https://landhiani.com">Justina Landhiani</a>.</p><p>The post <a rel="nofollow" href="https://landhiani.com/2016/10/sejarah-yang-tak-lengkap/">Sejarah yang Tak Lengkap</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://landhiani.com">Justina Landhiani</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://landhiani.com/2016/10/sejarah-yang-tak-lengkap/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>16</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Hey Millennial, It&#8217;s Time To Show Your Work!</title>
		<link>https://landhiani.com/2016/07/hey-millennial-its-time-to-show-your-work/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=hey-millennial-its-time-to-show-your-work</link>
					<comments>https://landhiani.com/2016/07/hey-millennial-its-time-to-show-your-work/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Justina]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 07 Jul 2016 03:55:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Motivation]]></category>
		<category><![CDATA[Opinion]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://landhiani.com/?p=67</guid>

					<description><![CDATA[<p>Teamwork via Pixabay.com Generasi millennial atau generasi Y merupakan generasi yang berisi orang-orang yang lahir antara tahun 1981-1994 atau sebelum tahun 2000. Generasi millennial ini [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://landhiani.com/2016/07/hey-millennial-its-time-to-show-your-work/">Hey Millennial, It’s Time To Show Your Work!</a> first appeared on <a href="https://landhiani.com">Justina Landhiani</a>.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://landhiani.com/2016/07/hey-millennial-its-time-to-show-your-work/">Hey Millennial, It&#8217;s Time To Show Your Work!</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://landhiani.com">Justina Landhiani</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;">
<tbody>
<tr>
<td style="text-align: center;"><a href="https://3.bp.blogspot.com/-E0eVVLGF8_s/V33AzPoT_oI/AAAAAAAACCA/qlVeTj8Xyx4GRUCFKJkq-IjQQ3eDdyrbgCLcB/s1600/startup-594090_1920.jpg" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"><img loading="lazy" decoding="async" border="0" height="426" src="https://3.bp.blogspot.com/-E0eVVLGF8_s/V33AzPoT_oI/AAAAAAAACCA/qlVeTj8Xyx4GRUCFKJkq-IjQQ3eDdyrbgCLcB/s640/startup-594090_1920.jpg" width="640" /></a></td>
</tr>
<tr>
<td style="text-align: center;">Teamwork via Pixabay.com</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><a href="http://hitsss.com/kenali-lebih-jauh-karakteristik-generasi-millennial-lewat-7-poin-ini/" rel="nofollow noopener" target="_blank"> Generasi millennial </a>atau generasi Y merupakan generasi yang berisi orang-orang yang lahir antara tahun 1981-1994 atau sebelum tahun 2000. Generasi millennial ini juga merupakan usia produktif sekaligus konsumen yang sangat mendominasi pasar saat ini.</p>
<p>Generasi millennial juga lebih memilih <i>smartphone </i>dibandingkan TV. <i>Smartphone</i> bener-bener enggak bisa lepas dari tangan. Masih inget istilah <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Nomofobia" rel="nofollow noopener" target="_blank">Nomofobia</a> kan? Yaitu suatu sindrom ketakutan jika terpisah dengan <i>smartphone</i> kita. Selain itu, generasi ini juga seperti memiliki sebuah keharusan yaitu memiliki sosial media. Percaya deh, yang enggak punya sosial media lama kelamaan akan tersisih dari dunia&nbsp;<strike>per-swag-an</strike>&nbsp;pergaulan temen-temen lo.</p>
<div></div>
<div>Namun, kabarnya generasi millennial juga memiliki <a href="http://www.ziliun.com/millennials-generasi-super-high-maintenance/" rel="nofollow noopener" target="_blank">kelemahan</a>, yaitu merupakan generasi yang <i>over confident</i>. Generasi ini juga sering merendahkan generasi terdahulu. Enggak inget? Coba deh instropeksi diri ketika ngajarin bokap nyokap make <i>smartphone</i>. Selain itu, dengan adanya sosial media yang kita punya, kita terkoneksi dengan banyak orang, namun kita hanya menjadikan mereka sebagai <i>audience</i>. Ya kali bro.</p>
<div>
<div></div>
<div>Terus bagaimana cara kita memanfaatkan era digital ini sebaik-baiknya?</div>
<div></div>
<div>Sebetulnya internet itu semacam <i>Scenius</i>, kata Mas Austin Kleon. Jadi scenius merupakan sekumpulan atau kelompok orang yang memiliki minat yang sama. <i>Scenius</i> bukan untuk menunjukkan seberapa hebat &nbsp;atau seberapa berbakatnya lo, tapi apa kontribusimu. Kontribusi bisa berupa gagasan, pendapat, percakapan dengan anggota <i>scenius</i> sehingga terjalin hubungan yang berkualitas. Jadi di dalam s<i>cenius</i>, kita bebas berpendapat, mengusulkan ide saling diskusi dan sebagainya.</div>
<div></div>
<div>Karena di sini gue nulis, gue suka main ke <i>scenius </i>yaitu <a href="http://katanium.com/" target="_blank" rel="noopener">Katanium</a>. Gue bisa nemu berbagai genre tulisan sehingga ide-ide buat nulis lancar banget. Ada tulisan yang menggelitik dari orang pinter seperti mas&nbsp;<a href="https://katanium.com/user/40/bogiyuniar" target="_blank" rel="noopener">Bogi</a>&nbsp;di Katanium. Ada juga tulisan dari mas-mas yang sering bikin ketawa ngakak macam Mas <a href="https://katanium.com/user/99/hamtiar_" target="_blank" rel="noopener">Ilham</a> ini. Seperti yang udah diceritakan oleh Austin Kleon, di dalam <i>scenius</i> enggak ada penjaga gawang, penjaga pintu ataupun editor. Karena kita semua di dalam <i>scenius</i> bisa jadi editor, pembaca, pembelajar dan lain sebagainya.&nbsp;</div>
<div>Di Katanium ini gue juga sering beradu argumen dengan Mas Bogi, minta pendapat dari Mas <a href="https://katanium.com/user/10/jungjawa" target="_blank" rel="noopener">Arif </a>dan Mbak <a href="https://katanium.com/user/44/ameliaseptiarisa" target="_blank" rel="noopener">Septiology</a>. Tak jarang pula gue juga diskusi dengan Mas<a href="https://katanium.com/user/99/hamtiar_" target="_blank" rel="noopener"> Ilham</a> yang super lucu itu. Untuk menghasilkan karya yang bagus, enggak salah kok berkonsultasi pada yang lebih ahli atau <i>expert</i>. Apalagi mereka juga bisa kasih pendapat buat karya kita.</div>
</div>
</div>
<div>Baca juga :&nbsp;<a href="http://justicious.blogspot.co.id/2015/08/tunjukkan-karyamu-tapi-jangan-tunjukkan.html" target="_blank" rel="noopener">Tunjukkan Karyamu, Jangan Hanya Makan Siangmu</a></p>
</div>
<div>Sekarang, apa kontribusimu? It&#8217;s time to show your work!</div>
<div></div><p>The post <a href="https://landhiani.com/2016/07/hey-millennial-its-time-to-show-your-work/">Hey Millennial, It’s Time To Show Your Work!</a> first appeared on <a href="https://landhiani.com">Justina Landhiani</a>.</p><p>The post <a rel="nofollow" href="https://landhiani.com/2016/07/hey-millennial-its-time-to-show-your-work/">Hey Millennial, It&#8217;s Time To Show Your Work!</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://landhiani.com">Justina Landhiani</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://landhiani.com/2016/07/hey-millennial-its-time-to-show-your-work/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>12</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Cantik atau Adaptif?</title>
		<link>https://landhiani.com/2016/06/cantik-atau-adaptif/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=cantik-atau-adaptif</link>
					<comments>https://landhiani.com/2016/06/cantik-atau-adaptif/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Justina]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 26 Jun 2016 07:53:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opinion]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://landhiani.com/?p=68</guid>

					<description><![CDATA[<p>Cara Delevingne via yoyowallpapers.com Akhir-akhir ini saya sering membicarakan sesuatu yang looks sepele, misal definisi cantik, cakep, indah, beautiful, jelek&#160;dan sebagainya. Mungkin karena kebawa ujian [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://landhiani.com/2016/06/cantik-atau-adaptif/">Cantik atau Adaptif?</a> first appeared on <a href="https://landhiani.com">Justina Landhiani</a>.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://landhiani.com/2016/06/cantik-atau-adaptif/">Cantik atau Adaptif?</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://landhiani.com">Justina Landhiani</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://3.bp.blogspot.com/-BWD-cqgHjF0/V2-BTYmbGJI/AAAAAAAACBg/muEWNklLmScIKTBiUCZ1Xq7QXg_OEwY0gCLcB/s1600/641218.jpg"><img decoding="async" border="0" src="https://3.bp.blogspot.com/-BWD-cqgHjF0/V2-BTYmbGJI/AAAAAAAACBg/muEWNklLmScIKTBiUCZ1Xq7QXg_OEwY0gCLcB/s640/641218.jpg" /></a></p>
<div style="text-align: center;">Cara Delevingne via yoyowallpapers.com</div>
<p>Akhir-akhir ini saya sering membicarakan sesuatu yang <i>looks</i> sepele, misal definisi cantik, cakep, indah, <i>beautiful, </i>jelek<i>&nbsp;</i>dan sebagainya. Mungkin karena kebawa ujian skripsi ya, yang mengharuskan kita untuk tahu dari konsep dasar hingga pengembangannya. Hehe</p>
<div>
<blockquote><p>&nbsp;“Wih, cantik banget! Tuh liat, bibirnya merah segar, pipinya merona, kulitnya putih bangeeeet! Mau banget dong kaya kakak!”</p></blockquote>
<blockquote><p>“Wih gile cakep banget, sispek gitu gan bodinya, mana bawanya motor “lakik” gitu, nambah lakik aja !”</p></blockquote>
</div>
<div>Percakapan di atas sering sekali kita jumpai. Baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Setelah saya amati, yang dimaksud dengan cantik atau cakep adalah mengacu pada model &nbsp;yang sering digunakan pada iklan produk perawatan kulit. Ya, hanya yang kulit putih, tubuh kurus, langsing, tinggi semampai (bukan semeter enggak sampai) yang layak muncul.</div>
<div>Sedihnya, kebanyakan dari kita enggak sadar, bahwa definisi “cantik” itu merupakan hasil konstruksi sosial. Padahal definisi cantik itu enggak dapat diartikan secara alamiah ataupun absolut. Semuanya relatif. Oleh karena itu, berlomba-lombalah (kebanyakan) cewek-cewek biar bisa “cantik”, agardapat mendapatkan perhatian pria yang memiliki konsep dasar &#8220;cantik&#8221; seperti yang dikumandangkan iklan di televisi. <i>You know?</i> Mulai dari perawatan kulit kelas wahid, hingga yang agak miring ditempuh agar bisa dikatakan &#8220;cantik&#8221; dan <i>instagramable</i>. Yakali mau posting muka “jelek” di instagram, pasti ujung-ujungnya dijadikan bahan tertawaan dan dijadikan meme, seperti foto yang tempo hari lalu viral, tentang seorang wanita yang menggunakan bedak terlalu tebal hingga warna muka dan lehernya sangat kontras. Entah <i>hummanity </i>kita sedang hilang atau lupa<i>&nbsp;</i>ditempatkan di mana ketika menyebar foto kemudian dibagikan untuk dijadikan bahan cibiran.</div>
<div>Jadi,  cantik itu mengikuti iklan, yaitu badan plus muka putih, &nbsp;<i>flawless</i>, enggak ada noda, kerutan, jerawat, luka, dan sebagainya, serta badan yang langsing atau kurus. Lah kalau begitu caranya, orang-orang yang berkulit coklat dan kulit hitam akan merasa tersingkir dong?&nbsp;Tetap saja, orang kulit hitam akan jadi nomor dua, <i>sorry to say</i>, sara banget atau bagaimana, tapi ini realita.&nbsp;</div>
<div>Dan orang yang <i>instagramable, iklanable</i> akan memiliki <i>privilege </i>tersendiri. Berbuat salah juga akan cepat dimaafkan, karena orang luluh dengan paras rupanya, bukan dari bagaimana dia sebenarnya. Kalau enggak percaya, coba lihat video dari&nbsp;<a href="https://www.ted.com/talks/cameron_russell_looks_aren_t_everything_believe_me_i_m_a_model?language=id" target="_blank" rel="noopener">Cameron Russell</a>&nbsp;berikut.&nbsp;</div>
<blockquote><p>&#8220;Selama beberapa abad kita telah mengartikan kecantikan bukan sekedar muda, sehat dan simetri yang kita kagumi secara alami, namun juga langsing, tinggi, feminim, dan kulit yang putih. Dan itulah warisan yang dibangun untuk saya dan dengan warisan itulah saya mencari uang.&#8221;</p></blockquote>
<div>Padahal yang diciptakan Sang Pencipta itu pasti bermakna, entah itu dianggap cantik, cakep atau enggak, pasti hal itu berguna, dan adaptif! Sebagai contoh nih, kita tinggal di daerah yang suhu udara sangat tinggi, serta intensitas cahaya matahari yang tinggi, enggak mungkin kalau kita punya rambut lurus dan kulit putih. Rambut kita pasti ikal karena lebih tahan menangkal sinar matahari ke kepala kita, serta kulit hitam, karena lebih kuat dibandingkan kulit putih untuk menangkal bahaya <a href="http://lifestyle.analisadaily.com/read/alasan-orang-kulit-hitam-sulit-terkena-kanker-kulit/140652/2015/06/08" target="_blank" rel="noopener">kanker kulit</a>&nbsp;karena memiliki pigmen yang lebih banyak. Itu contoh kecilnya.</div>
<div>Jadi, kita tidak perlu lagi merasa minder karena kondisi fisik yang&nbsp;enggak <i>instagramable.</i>&nbsp;Segala apa yang kita punya adalah karya Tuhan Yang Maha Esa.&nbsp;</div><p>The post <a href="https://landhiani.com/2016/06/cantik-atau-adaptif/">Cantik atau Adaptif?</a> first appeared on <a href="https://landhiani.com">Justina Landhiani</a>.</p><p>The post <a rel="nofollow" href="https://landhiani.com/2016/06/cantik-atau-adaptif/">Cantik atau Adaptif?</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://landhiani.com">Justina Landhiani</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://landhiani.com/2016/06/cantik-atau-adaptif/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>3</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Masa Bodoh dengan Semua Kegalauan, Sekarang Saatnya Berjuang Meraih Mimpi</title>
		<link>https://landhiani.com/2016/04/masa-bodoh-dengan-semua-kegalauan-sekarang-saatnya-berjuang-meraih-mimpi/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=masa-bodoh-dengan-semua-kegalauan-sekarang-saatnya-berjuang-meraih-mimpi</link>
					<comments>https://landhiani.com/2016/04/masa-bodoh-dengan-semua-kegalauan-sekarang-saatnya-berjuang-meraih-mimpi/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Justina]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 22 Apr 2016 13:18:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Motivation]]></category>
		<category><![CDATA[Opinion]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://landhiani.com/?p=72</guid>

					<description><![CDATA[<p>Cara Delevingne via&#160;yoyowallpapers.com &#8220;Just imagine you&#8217;re 99 years old and you&#8217;re on your death bed, you&#8217;re sad and disappointed with the past, full of regrets [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://landhiani.com/2016/04/masa-bodoh-dengan-semua-kegalauan-sekarang-saatnya-berjuang-meraih-mimpi/">Masa Bodoh dengan Semua Kegalauan, Sekarang Saatnya Berjuang Meraih Mimpi</a> first appeared on <a href="https://landhiani.com">Justina Landhiani</a>.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://landhiani.com/2016/04/masa-bodoh-dengan-semua-kegalauan-sekarang-saatnya-berjuang-meraih-mimpi/">Masa Bodoh dengan Semua Kegalauan, Sekarang Saatnya Berjuang Meraih Mimpi</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://landhiani.com">Justina Landhiani</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;">
<tbody>
<tr>
<td style="text-align: center;"><a href="https://2.bp.blogspot.com/-aHAHMYyBFJU/VxojYOcla2I/AAAAAAAAB6g/gts0-0-mDfoeTl56rT5LqkFxVL75EUZigCLcB/s1600/Cara-Delevingne-Full-HD-Wallpaper-desktop-958x638-.jpg" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"><img loading="lazy" decoding="async" border="0" height="426" src="https://2.bp.blogspot.com/-aHAHMYyBFJU/VxojYOcla2I/AAAAAAAAB6g/gts0-0-mDfoeTl56rT5LqkFxVL75EUZigCLcB/s640/Cara-Delevingne-Full-HD-Wallpaper-desktop-958x638-.jpg" width="640" /></a></td>
</tr>
<tr>
<td style="text-align: center;">Cara Delevingne via&nbsp;yoyowallpapers.com</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<blockquote><p>&#8220;Just imagine you&#8217;re 99 years old and you&#8217;re on your death bed, you&#8217;re sad and disappointed with the past, full of regrets about how you lived your life. All of a sudden you have a chance to come back to right now. What would you do? Whatever you answer is exactly what you should be doing. Go and do it.&#8221;-Anonim</p></blockquote>
<div>Mimpi di tulisan yang akan gue bahas ini bukan tentang mimpi bunga tidur ya. Bukan. Tapi mimpi, yang nantinya bisa lo jabarin jadi visi, misi hidup lo.</p>
<p>Gimana sih kalo orang enggak punya mimpi? Ya gantung. Hidup terasa mengalir gitu aja, dan berasa kosong. Seolah di dunia ini udah enggak ada yang menarik lagi. Kalo kata orang, &#8220;Hidup segan, mati tak mau&#8221;.</p>
<p>Nah, gimana sih biar lo tetep bisa pegang mimpi lo?</p>
<p><i>Simple</i>, lo harus punya tabungan &#8220;bensin&#8221; yang banyak untuk selalu &#8220;membakar&#8221; diri lo tetep <i>on fire </i>buat meraih mimpi. Dan juga, kelilingilah diri lo selalu dengan orang-orang yang selalu mendukung dan menasehati serta mengingatkan mimpi-mimpi lo. Itu penting banget, karena ada beberapa orang yang punya potensi mencerabut semangat meraih mimpi yang udah kamu punya.</p>
<p>Contoh kecilnya, gue dulu pernah banget <i>on fire</i> gitu, belajar dari siang nunggu buka puasa, lanjut abis tarawih sampe jam 2 pagi. Dan itu tiap hari. Hasilnya badan gue <i>drop</i>, tapi gue tetep semangat dan enggak ijin buat bolos sekolah walau badan gue panas banget. Akhirnya nilai-nilai gue yang semula di antara 6 sampe 7 koma doang, bisa nyampe di atas 8 komaan. Itu dulu gue punya mimpi kuliah di Tokyo University.</p>
<blockquote><p>&#8220;Aku sudah bosan takut, sudah bosan putus asa.&#8221;-Pramoedya Ananta Toer</p></blockquote>
<p>Selain tabungan bensin, lo juga perlu punya harapan mencapai mimpi lo. Karena jika udah enggak punya harapan lagi buat mencapai mimpi, lo enggak bakal sampai kapanpun mencapai mimpi lo. Seperti yang Profesor Charles Xavier bilang di X-men Days of Future Past, &#8220;Harapan, adalah kekuatan paling besar yang dimiliki oleh manusia.&#8221;</p>
<div>Baca juga :&nbsp;<a href="http://justicious.blogspot.co.id/2015/12/hope-biggest-power-of-human.html" target="_blank" rel="noopener">Hope, The Biggest Power of Human</a></p>
</div>
<div>Masih inget gimana lo berjuang mati-matian demi ngedapetin gebetan lo? Nah ya mirip gitu. Lo punya visi, misi yang jelas banget serta harapan yang tinggi untuk dapat bersanding dengan pujaan hati. Semangat banget gitu ya, mau lagi cuaca panas, atau lagi musim hujan, demi gebetan mah hajar bleh! Yang penting visi, misi lo terwujud. Gitu kan ya? Nah, coba semangat yang seperti ini lo tiru ketika lo mau ujian pendadaran, <i>interview</i> kerja, dan lain sebagainya. Bakal asik banget kan?</p>
<p>So, lo masih mau nganggurin resolusi-resolusi tahunan yang udah lo buat? Enggak gatel pengen ngeraih semuanya gitu? Cheers!</p></div>
</div><p>The post <a href="https://landhiani.com/2016/04/masa-bodoh-dengan-semua-kegalauan-sekarang-saatnya-berjuang-meraih-mimpi/">Masa Bodoh dengan Semua Kegalauan, Sekarang Saatnya Berjuang Meraih Mimpi</a> first appeared on <a href="https://landhiani.com">Justina Landhiani</a>.</p><p>The post <a rel="nofollow" href="https://landhiani.com/2016/04/masa-bodoh-dengan-semua-kegalauan-sekarang-saatnya-berjuang-meraih-mimpi/">Masa Bodoh dengan Semua Kegalauan, Sekarang Saatnya Berjuang Meraih Mimpi</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://landhiani.com">Justina Landhiani</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://landhiani.com/2016/04/masa-bodoh-dengan-semua-kegalauan-sekarang-saatnya-berjuang-meraih-mimpi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>9</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dumb is Never Cute, You Can Do More!</title>
		<link>https://landhiani.com/2016/04/dumb-is-never-cute-you-can-do-more/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=dumb-is-never-cute-you-can-do-more</link>
					<comments>https://landhiani.com/2016/04/dumb-is-never-cute-you-can-do-more/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Justina]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 21 Apr 2016 01:25:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Motivation]]></category>
		<category><![CDATA[Opinion]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://landhiani.com/?p=73</guid>

					<description><![CDATA[<p>Emma Watson via justjared.com Masih inget enggak dengan pernyataan salah seorang &#8220;tokoh&#8221; yang bilang bahwa wanita yang kuat, mandiri dan enggak bergantung yang lain itu [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://landhiani.com/2016/04/dumb-is-never-cute-you-can-do-more/">Dumb is Never Cute, You Can Do More!</a> first appeared on <a href="https://landhiani.com">Justina Landhiani</a>.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://landhiani.com/2016/04/dumb-is-never-cute-you-can-do-more/">Dumb is Never Cute, You Can Do More!</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://landhiani.com">Justina Landhiani</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;">
<tbody>
<tr>
<td style="text-align: center;"><a href="https://2.bp.blogspot.com/-nMzAUEodiFE/VxgoZivlwMI/AAAAAAAAB6E/fmIeA-EaoUsnzFkMx1hc90fdL4iwbtAZQCLcB/s1600/justjared.jpg" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"><img loading="lazy" decoding="async" border="0" height="320" src="https://2.bp.blogspot.com/-nMzAUEodiFE/VxgoZivlwMI/AAAAAAAAB6E/fmIeA-EaoUsnzFkMx1hc90fdL4iwbtAZQCLcB/s640/justjared.jpg" width="640" /></a></td>
</tr>
<tr>
<td style="text-align: center;">Emma Watson via justjared.com</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<div></div>
<p>Masih inget enggak dengan pernyataan salah seorang &#8220;tokoh&#8221; yang bilang bahwa wanita yang kuat, mandiri dan enggak bergantung yang lain itu bikin lelaki jarang yang mau karena <i>looks</i> serem? Pernyataan yang menurut gue bikin geregetan. Pernyataan yang akhirnya memicu banyak pihak debat karenanya.</p>
<p>Terus, untuk menjadi seutuhnya “wanita” apakah seperti itu? Apakah menjadi wanita harus emyeh-emyeh lemah, dikit-dikit minta bantuan, angkat galon enggak bisa (atau enggak mau), enggak bisa (atau enggak mau) terkena sinar matahari yang menyengat dan lain sebagainya. Dan lagi, apakah menjadi “wanita” seutuhnya baca bukunya harus melulu tentang Wanita yang Dirindukan Surga, Istri yang Berbakti, dan enggak mau melek terhadap dunia teknologi, sains, ekonomi, politik. Gitu ya? </p>
<p>Di berbagai film juga sering banget digambarkan wanita masih menyandang gelar kudate. Contohnya saja salah satu adegan di film X-Men Days of Future Past ketika Raven bertemu dengan salah satu prajurit dari Vietnam. Ketika mereka berada di kamar, Raven bertanya tentang agenda pertemuan di Prancis, dan si lelaki tersebut menjawab “Wanita cantik, berminat dengan politik? Waw.”</p>
<p>Di <a href="http://justicious.blogspot.co.id/2016/03/violence-against-women-its-also-mens.html" target="_blank" rel="noopener">tulisan</a>&nbsp;gue sebelumnya, gue sudah membahas bagaimana kesalahan pihak laki-laki berlaku kepada para wanita. Tapi, sekarang gue akan membahas kenapa wanita juga tetep enggak bisa (<i>mostly</i>) mencapai cita-cita besar yang diinginkan.</p>
<p>Salah satunya, adalah ketakutan wanita akan dicap serem atau kolot kalau mereka <i>looks</i> lebih “pintar” &nbsp;atau lebih &#8220;kaya&#8221; daripada laki-laki. Gue pernah denger obrolan seorang cowok yang bilang, “Lah, kalau pacar gue bawa Fortuner, dan gue cuma bawa motor, ya gue balik kanan. Ya gengsi lah”. Lah kok gitu mas? Terus juga ada yang pernah bilang bahwa laki-laki itu ingin merasa selalu dibutuhkan. Kondisi semacam ini yang membuat cewek jadi manja. “Mas anterin ke mall ya”, “Mas, aku enggak bisa formatin dokumenku nih, bisa bantuin?”, “Mas aku jemput pake mobil ya, panas banget ini aku enggak bisa panas-panas”. Selain itu, gue juga geregetan ketika ada cowok yang bilang, “Lah, kalau bisa sih cari istri jangan pinter-pinter banget, ntar kalau mau tidur, jangan-jangan tar dikasih teori banyak-banyak, enggak jadi tidur gue”. Lah mas, kan bisa diskusi loh kayak gitu, memperdalam ilmu juga, malah asik enggak sih, diskusi sampe larut malem tanpa takut digrebek orang-orang, karena diskusi sama pasangan sendiri?</p>
<p>Oh, c’mon! <i>Dumb is never cute</i>. Lo punya hak untuk meraih semua cita-cita lo, entah lo cewek atau cowok, lo anak orang kaya atau bukan. Dan bagi lo cewek, tetaplah smart, and strong. Tetaplah belajar dan belajar. Jadi cewek <i>smart </i>itu sama sekali enggak salah kok. And it will make you beautiful! Seperti gambar yang diupload Cara Delevingne di akun Instagramnya :</p>
<div></p>
<div style="clear: both; text-align: center;"><a href="https://4.bp.blogspot.com/-LHNns9EYRkQ/VxgqfP7Xc3I/AAAAAAAAB6Q/bJJ3hNYM05MR72z2yglAT8w67bdKakkWgCLcB/s1600/Screenshot_2015-07-11-06-31-02.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"><img loading="lazy" decoding="async" border="0" height="640" src="https://4.bp.blogspot.com/-LHNns9EYRkQ/VxgqfP7Xc3I/AAAAAAAAB6Q/bJJ3hNYM05MR72z2yglAT8w67bdKakkWgCLcB/s640/Screenshot_2015-07-11-06-31-02.jpg" width="547" /></a></div>
<div style="clear: both; text-align: center;"></div>
<div></p>
<div style="clear: both; text-align: center;"></div>
<div></p>
<div></div>
</div>
</div>
</div><p>The post <a href="https://landhiani.com/2016/04/dumb-is-never-cute-you-can-do-more/">Dumb is Never Cute, You Can Do More!</a> first appeared on <a href="https://landhiani.com">Justina Landhiani</a>.</p><p>The post <a rel="nofollow" href="https://landhiani.com/2016/04/dumb-is-never-cute-you-can-do-more/">Dumb is Never Cute, You Can Do More!</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://landhiani.com">Justina Landhiani</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://landhiani.com/2016/04/dumb-is-never-cute-you-can-do-more/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>14</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Emansipasi, Salah Siapa?</title>
		<link>https://landhiani.com/2016/03/emansipasi-salah-siapa/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=emansipasi-salah-siapa</link>
					<comments>https://landhiani.com/2016/03/emansipasi-salah-siapa/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Justina]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 15 Mar 2016 15:07:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opinion]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://landhiani.com/?p=80</guid>

					<description><![CDATA[<p>“Emansipasi itu kerjaannya orang Barat yang benci agama!”“Emansipasi itu pasti kerjaannya orang-orang yang sok feminis, yang benci laki-laki dan menikah, yang ujung-ujungnya pada jadi lesbi!” [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://landhiani.com/2016/03/emansipasi-salah-siapa/">Emansipasi, Salah Siapa?</a> first appeared on <a href="https://landhiani.com">Justina Landhiani</a>.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://landhiani.com/2016/03/emansipasi-salah-siapa/">Emansipasi, Salah Siapa?</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://landhiani.com">Justina Landhiani</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div style="clear: both; text-align: center;"><a href="https://2.bp.blogspot.com/-wHn8QTVkPNQ/VtjfOrXZVdI/AAAAAAAAB0E/rKxiNdLEzBw/s1600/girl-1201561_1920.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"><img loading="lazy" decoding="async" border="0" height="394" src="https://2.bp.blogspot.com/-wHn8QTVkPNQ/VtjfOrXZVdI/AAAAAAAAB0E/rKxiNdLEzBw/s640/girl-1201561_1920.jpg" width="640" /></a></div>
<p></p>
<blockquote><p>“Emansipasi itu kerjaannya orang Barat yang benci agama!”<br />“Emansipasi itu pasti kerjaannya orang-orang yang sok feminis, yang benci laki-laki dan menikah, yang ujung-ujungnya pada jadi lesbi!”</p></blockquote>
<p>Jadi sebenarnya, emansipasi itu apa sih?</p>
<p>Emansipasi menurut KBBI adalah pembebasan dari perbudakan, persamaan hak dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat (seperti persamaan hak kaum wanita dengan kaum pria).</p>
<p>Jadi di sini kita samakan konteks pembicaraan kita tentang emansipasi adalah persamaan hak dalam berbagai aspek kehidupan bermasyarakat (ya). Mengapa wanita menginginkan emansipasi? Hal ini tidak lain dan tidak bukan bahwa wanita mengalami keterbatasan untuk melakukan sesuatu karena jenis kelaminnya. Seperti, dulu wanita adalah tabu untuk keluar rumah, untuk belajar sekalipun.</p>
<p>Subordinasi terhadap wanita sangat sering dan bahkan sampai sekarang masih banyak dilakukan. Bahkan terkadang bagi wanita, hal tersebut seolah wajar dan merupakan suatu “kodrat”.  Betapa banyak kalimat bernada merendahkan perempuan yang sering kita dengar atau bahkan kita ucapkan?</p>
<p>Seperti ketika saya sedang menonton kartun favorit saya di tv, Spongebob. Waktu itu Spongebob sedang melatih Gary untuk memenangkan lomba lari, tapi Gary hanya diam dan malas-malasan. Keluarlah kata-kata bernada sexist dari mulut Spongebob “Aku memanggilmu wanita untuk mengejekmu Gary!” Peggy Carter dari film Captain America yang seorang wanita pun ketika menegur prajuritnya yang malas-malasan dengan sebutan “Hai Girls!”, dan masih banyak lagi film ataupun lirik lagu yang bernada merendahkan wanita. Nope, saya bukannya ingin membesarkan hal-hal kecil.&nbsp;Tapi hal kecil seperti ini lah yang jika kita tidak berani untuk speak up bahwa ini tidak baik, kita tidak akan mencapai suatu kondisi yang lebih baik.</p>
<div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm;"><span style="font-size: 13.5pt;"><br /><o:p></o:p></span></div>
<p>Dari jalur cerita film, bukankah sebagian besar ceritanya hampir sama? Seorang wanita ditangkap, datanglah seorang pria yang akan menyelamatkan, and then the man get the girl. End of story. Dan sangat sedikit film yang menyajikan wanita sebagai tokoh utamanya.</p>
<p>Bukan, saya membahas masalah seperti ini bukan karena saya sebagai wanita juga ingin memiliki semua yang dimiliki laki-laki. Adil bukanlah berarti sama, namun meletakkan sesuatu sesuai dengan tempatnya lah yang disebut adil. Wanita dan pria diciptakan dengan karakteristik yang berbeda. Berbeda untuk saling melengkapi dan membantu, bukan untuk saling adu kuat satu sama lain. Pria identik dengan ketegasan, kekuatan otot, kuatnya logika, sedangkan wanita identik dengan emosional, perasaan, dan tingginya empati. Tidak ada yang salah terhadap hal tersebut. Yang salah adalah ketika kita memandang sesuatu yang berhubungan dengan ketegasan, kekuatan dan logika adalah lebih tinggi derajatnya dibanding sesuatu yang berhubungan dengan perasaan dan empati. </p>
<p>Apakah akal wanita dan pria sama? Saya setuju dengan pendapat Plato, yang diajarkan dari Alberto Knox kepada Sophie di buku Dunia Sophie, bahwa akal seorang budak dengan seorang pria adalah sama. Saya disini bukannya ingin menyejajarkan bahwa wanita diibaratkan budak. Bukan. Namun arti dari kalimat tersebut adalah, semua orang memiliki akal yang sama, pemikiran yang sama tajamnya, apabila diberi fasilitas untuk menajamkan pemikirannya.</p>
<p>Baca juga :&nbsp;<a href="http://justicious.blogspot.co.id/2016/03/violence-against-women-its-also-mens.html" target="_blank" rel="noopener">Violence Against Women, It&#8217;s Also Men&#8217;s Issue</a></p>
<p>So, woman problem bukanlah masalah yang hanya dapat atau selayaknya hanya diperhatikan oleh wanita. Tapi pria selayaknya juga ikut memperhatikan masalah ini. Start from now, ketika lagi ngobrol tentang tubuh cewek aja atau yang bernada <i>sexist</i>, cobalah tidak hanya untuk pura-pura tidak mendengarkan untuk cari aman. Cobalah untuk menghentikan pembicaraan ini “kamu punya ibu yang seorang wanita ataupun saudara wanita yang harus kamu hormati”. </p>
<p>Wanita dan pria adalah manusia, dan sesama manusia saya rasa tidak ada yang memiliki hak apapun untuk saling merendahkan satu sama lain. Mulai dari sekarang, jika ada lirik lagu ataupun yang lain yang bernada merendahkan,&nbsp;yuk&nbsp;lebih baik dikurang-kurangin. Dikurang-kurangin dengerin lagunya,&nbsp;dikurang-kurangin melafalkan liriknya, dan semoga kita lebih <i>aware</i> terhadap sesuatu yang tidak baik.</p>
<div></div>
<div>Image source : pixabay.com</div><p>The post <a href="https://landhiani.com/2016/03/emansipasi-salah-siapa/">Emansipasi, Salah Siapa?</a> first appeared on <a href="https://landhiani.com">Justina Landhiani</a>.</p><p>The post <a rel="nofollow" href="https://landhiani.com/2016/03/emansipasi-salah-siapa/">Emansipasi, Salah Siapa?</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://landhiani.com">Justina Landhiani</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://landhiani.com/2016/03/emansipasi-salah-siapa/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>12</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Violence Against Women, It’s Also Men’s Issue</title>
		<link>https://landhiani.com/2016/03/violence-against-women-its-also-mens-issue/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=violence-against-women-its-also-mens-issue</link>
					<comments>https://landhiani.com/2016/03/violence-against-women-its-also-mens-issue/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Justina]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 10 Mar 2016 02:53:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opinion]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://landhiani.com/?p=81</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jackson Katz via ted.com Jika kita mendengar &#8220;masalah kekerasan gender&#8221;, pasti otak kita akan selalu tertuju bahwa hal itu sama artinya dengan kekerasan terhadap perempuan. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://landhiani.com/2016/03/violence-against-women-its-also-mens-issue/">Violence Against Women, It’s Also Men’s Issue</a> first appeared on <a href="https://landhiani.com">Justina Landhiani</a>.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://landhiani.com/2016/03/violence-against-women-its-also-mens-issue/">Violence Against Women, It’s Also Men’s Issue</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://landhiani.com">Justina Landhiani</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;">
<tbody>
<tr>
<td style="text-align: center;"><a href="https://1.bp.blogspot.com/-lpApDOjAf7k/VuDg7ppyf1I/AAAAAAAAB00/fngTQ_PtvzA/s1600/a5ac3cc19c32c812c6d8729b5265d4ed6d525e44_1600x1200.jpg" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"><img loading="lazy" decoding="async" border="0" height="480" src="https://1.bp.blogspot.com/-lpApDOjAf7k/VuDg7ppyf1I/AAAAAAAAB00/fngTQ_PtvzA/s640/a5ac3cc19c32c812c6d8729b5265d4ed6d525e44_1600x1200.jpg" width="640" /></a></td>
</tr>
<tr>
<td style="text-align: center;">Jackson Katz via ted.com</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Jika kita mendengar &#8220;masalah kekerasan gender&#8221;, pasti otak kita akan selalu tertuju bahwa hal itu sama artinya dengan kekerasan terhadap perempuan. Lho, padahal gender bukan hanya perempuan, tapi mengapa kita bisa memikirkan secara seragam seperti ini? Jackson Katz dalam <a href="https://www.ted.com/talks/jackson_katz_violence_against_women_it_s_a_men_s_issue" rel="nofollow noopener" target="_blank">speech miliknya</a>&nbsp; mengungkapkan hal yang menarik sebagai berikut ini. </p>
<p>Ketika kita berbicara tentang ras, di Amerika Serikat, maka kebanyakan orang akan berpikir ras adalah sesuatu tentang orang African-American, Latino, Asian-American, Native American, South Asian, Pacific Islander, dan sebagainya. Ketika orang-orang mendengar &#8220;orientasi seksual&#8221;  mereka akan berpikir tentang gay, lesbian, dan biseksual. Dan ketika orang-orang mendengar kata &#8220;gender&#8221; maka orang akan berpikir bahwa itu tentang wanita.</p>
<p>Di setiap kasus tersebut, maka kelompok yang merasa dirinya dominan tidak akan menaruh perhatian besar pada setiap permasalahan tersebut. Right? Sebagai orang kulit putih, maka orang kulit putih tidak akan mendapatkan berbagai masalah tentang identitas rasnya. Dan sebagai orang yang heterosexual yang tidak memerlukan &#8220;sexual orientation&#8221; dan sebagai lelaki yang tidak memerlukan &#8220;gender&#8221;. Dan hal ini sangat menakjubkan, bagaimana pria seperti dihapuskan dan tidak pernah dilibatkan dalam percakapan mengenai subjek ini. Right?</p>
<blockquote><p>Literally the way that we use language, conspires to keep our attention off of men.</p></blockquote>
<p>Teori ini datang dari penelitian seorang feminist linguist, Julia Penelope.  Hal ini bermula dengan kalimat sederhana dari bahasa Inggris, John beat Mary. John adalah subjek, beat adalah kata kerja, dan Mary adalah objek.&nbsp;Oke, selanjutnya kita akan pindah ke kalimat kedua yang memiliki arti yang sama namun dalam bentuk kalimat pasif.</p>
<p>Mary was beaten by John.</p>
<p>Dan sekarang seluruhnya yang terjadi ada pada kalimat pertama, kita pindah dari John beat Mary, menjadi Mary was beaten by John. Sehingga kita merubah fokus kita yang semula adalah John, sekarang menjadi Mary. Dan kamu bisa melihat bahwa John sangat dekat dengan akhir dari kalimat. well, dekat dengan mengacuhkan terms&#8221;john&#8221; dari pikiran kita.</p>
<p>Kalimat ketiga, John dihilangkan, dan kita mendapatkan &#8221; Mary was beaten&#8221;, dan sekarang fokus kita adalah semuanya tentang Mary. Kita tidak akan berpikir tentang John, dan hanya akan berfokus kepada Mary. &nbsp;Kemudian, term yang telah kita gunakan sinonim dari beaten adalah battered, jadi kita akan mendapatkan &#8221; Mary was battered&#8221;. Dan kalimat terakhir dari sekuens ini adalah Mary is a battered woman. </p>
<p>Jadi identitas sebenarnya dari Mary sekarang adalah : Mary is a battered woman, yang walaupun dilakukan oleh John pada kalimat pertama. Namun kita telah menunjukkan bahwa John telah jauh dihilangkan pada percakapan ini. Sehingga  dapat dikatakan, bahwa umum terjadi masyarakat kita lebih sering menuduh kepada korban, bukan kepada orang yang melakukan sesuatu kepada korban. </p>
<div>Ada apa sebenarnya? Mengapa pria seringkali menyiksa, secara fisik, emosional, verbal atau dengan cara lain. Mengapa ada banyak pula pria dewasa yang melakukan kekerasan seksual terhadap anak kecil baik itu perempuan maupun laki-laki? Mengapa permasalahan seperti ini merupakan masalah yang umum terjadi di seluruh dunia sampai saat ini? Mengapa kita selalu mendengar kasus ini lagi, lagi, lagi dan lagi?&nbsp;</div>
<div></div>
<div>Dan jika ada wanita yang berdiri tegak, berani menyuarakan pendapatnya bahwa telah terjadi sesuatu yang tidak benar, wanita tersebut akan dicap dengan sebutan yang buruk. Male-basher, Man-Hater, atau bahkan disebut Feminazi. Right? Hal tersebut tak ubahnya dengan membunuh pesan kebenaran. Seolah kita harus diam dan tetap nyaman pada sistem saat ini.</div>
<div></div>
<div>Baca juga :&nbsp;<a href="http://www.landhiani.com/2016/03/review-spotlight-2015.html" target="_blank" rel="noopener">Review Film Spotlight [2015]</a></div>
<div></div>
<p>How do we not remain silent in the face of abuse?</p>
<p>Kita bisa mulai dari kita sendiri. Contoh kecilnya adalah, jika kamu seorang pria yang mungkin sedang bersama dengan teman priamu, dan tidak ada wanita yang ada di situ dan terdapat beberapa pria yang berbicara bernada <i>sexist</i> atau merendahkan perempuan. Mulailah untuk mulai berbicara, instead of hanya tertawa sepanjang percakapan, atau berpura-pura kamu tidak mendengarnya. Cobalah untuk berkata &#8220;hey, itu tidak lucu. Kamu sama saja sedang merendahkan saudara perempuanmu, atau ibumu.  Bisakah kamu bercanda dengan sesuatu yang lain? Bisakah kita berbicara sesuatu yang lain?”</p>
<p>So, that’s all. Oke, we need you. Thank you</p><p>The post <a href="https://landhiani.com/2016/03/violence-against-women-its-also-mens-issue/">Violence Against Women, It’s Also Men’s Issue</a> first appeared on <a href="https://landhiani.com">Justina Landhiani</a>.</p><p>The post <a rel="nofollow" href="https://landhiani.com/2016/03/violence-against-women-its-also-mens-issue/">Violence Against Women, It’s Also Men’s Issue</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://landhiani.com">Justina Landhiani</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://landhiani.com/2016/03/violence-against-women-its-also-mens-issue/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>7</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/

Object Caching 44/145 objects using memcached
Page Caching using disk: enhanced 
Database Caching 2/14 queries in 0.016 seconds using redis (Request-wide modification query)

Served from: landhiani.com @ 2024-01-05 02:27:04 by W3 Total Cache
-->